Embargo Militer : Masa Suram Alutsista Militer Indonesia

14 Apr 2012 | by Admin | 20345 views | comments


JAS MERAH (Jangan Sekali-kali Melupakan Sejarah) adalah sebuah topik pidato Presiden Pertama Indonesia yaitu Soekarno. Pesannya sungguh jelas, agar segenap bangsa Indonesia tidak melupakan sejarahnya. Supaya kita belajar dari sejarah tersebut, baik sejarah yang pahit maupun sejarah yang menyenangkan. Itu jugalah yang mendasari saya sebagai Admin AnalisisMiliter.com menuliskan artikel ini, yaitu untuk mengingatkan kembali sebuah sejarah kelam Negara ini agar kejadian yang sama tidak terjadi lagi.



Masih ingat dalam ingatan ketika Amerika dan sekutunya menjatuhkan embargo militer terhadap Indonesia. Embargo ini didasarkan tuduhan Amerika dan sekutunya terhadap Indonesia yang menurut mereka telah melakukan pelanggaran HAM di Timor Timur pada tahun 1999. Embargo ini mengakibatkan Indonesia tidak bisa membeli peralatan militer termasuk suku cadangnya sehingga menyebabkan peralatan militer Indonesia terutama alutsista stategis seperti F-16, F-5, C-130 dan Hwak series mengalami penurunan kesiapan tempur hingga di bawah 50%. Sungguh kondisi yang mengenaskan jika dibandingkan dengan kondisi Angkatan Tempur Indonesia ketika merebut Irian Jaya dari Belanda.


Embargo ini menyebabkan Alutsista Indonesia banyak yang harus di ‘grounded’ sementara karena tidak memiliki suku cadang untuk mendukung operasinya. Sebagai contoh sebagian pesawat F-16 milik TNI AU harus rela di kanibalisasi untuk dijadikan spare part bagi pesawat F-16 lainnya. Dari 10 pesawat F-16 Indonesia kala itu, tidak lebih dari 4 pesawat saja yang bisa diterbangkan. Selebihnya di Grounded. Bisa dibayangkan bagaimana mungkin 4 pesawat F-16 bisa menjaga kedaulatan Republik Indonesia yang luasnya hampir sama dengan luas benua Eropa. Sungguh kondisi yang memprihatinkan.


Pesawat Tempur lainnya yaitu F-5 yang juga merupakan buatan Amerika juga mengalami nasib yang sama dengan F-16. Kebanyakan pesawat ini di Grounded karena ketiadaan suku cadang pesawat. Demikian juga dengan nasib pesawat Hwak-109/209 buatan Inggris yang juga di embargo oleh Inggris sebagai sekutu utama Amerika. Kondisi pesawat ini masih cukup baik karena masih tergolong baru kala itu, namun demikian tidak semua dari 40 pesawat ini yang bisa di terbangkan ketika itu.


Di bagian pesawat pengangkut seperti pesawat C-130 Hercules yang merupakan tulang punggung pergerakan militer Indonesia juga mengalami nasib yang sama. Lagi-lagi karena keterbatasan suku cadang yang di embargo Amerika dan sekutunya, pesawat-pesawat pengangkut inipun tidak bisa digunakan secara optimal. Hal ini membuat pergerakan militer Indonesia di wilayah yang maha luas ini menjadi sangat terbatas. Melihat kondisi ini sangatlah miris rasanya.


Untuk peralatan militer lainnya juga mengalami nasib yang sama. Katakanlah seperti kapal tempur Indonesia yang ketika itu banyak merupakan buatan Amerika dan sekutunya. Bahkan tank-tank scorpion yang di beli Indonesia di Inggris juga mengalami nasib yang sama.


Negara Lain ‘Berpesta’ atas Penderitaan Militer Indonesia


Ketika kondisi militer Indonesia sangat memprihatinkan, kita bisa membedakan mana sebanarnya negara sahabat dan mana negara yang senang atas penderitaan Indonesia. Ketika embargo masih berlaku, Inggris secara terang-terangan melarang Indonesia menggunakan Tank Scorpion ketika terjadi perselisihan di Aceh. Demikian juga halnya dengan pesawat tempur Hwak-209/109 yang juga di beli dari Inggris dilarang untuk digunakan dalam perselisihan di aceh dan di daerah lainnya.


Selain itu, tetangga selatan kita yang juga turut andil di balik lepasnya timor timur dari Indonesia, yaitu Australia. Negara ini juga beberapa kali melakukan pelanggaran ke wilayah Indonesia yaitu dengan mengirimkan jet tempur F-18 ke sekitar Nusa Tenggara Timur. Kemudian Pesawat Hwak-109/209 TNI AU melakukan intercept/penyergapan terhadap pesawat tersebut. Akhirnya pesawat tersebut pun pergi meninggalkan wilayah Indonesia. Namun, pada malam harinya pesawat F-18 kembali memasuki wilayah Indonesia dan dalam jumlah yang jauh lebih banyak serta terbang rendah diatas Bandara El Tari Kupang. Pesawat TNI AU tidak bisa melakukan apa apa terhadap kerjadian ini selain mengumpat dalam hati atas pelecehan dari Negara tetangga tersebut. Sungguh ironis..


Amerika sebagai tokoh utama dibalik embargo militer Indonesia juga banyak melalukan tindakan yang sepertinya melecehkan kedaulatan Indonesia. Dan salah satu yang paling terkenal adalah peristiwa Bawean yaitu ketika 3 pesawat F-18 Angkatan Laut Amerika terbang dari kapal Induk yang sedang berlayar di wilayah Indonesia. Tidak hanya terbang, ketika pesawat tersebut juga melakukan maneuver yang mengganggu penerbangan sipil di Indonesia serta tidak melaporkan kegiatannya ke pihak berwenang di Indonesia. TNI AU dengan segala keterbatasannya akhirnya mengirimkan 2 pesawat F-16 B (yg merupakah pesawat latih tempur) untuk mencegat ketiga pesawat tersebut. Dari segi teknologi kedua pesawat F-16 Indonesia masih kalah dari 3 F-18 Amerika, apalagi setelah terjadi kejar-kejaran antara kedua jenis pesawat itu, 2 F-18 dari kapal Induk diterbangkan untuk membantu 3 F-18 yang sebelumnya. Sehingga jelas F-16 Indonesia akan kalah. Namun, dari segi politik Indonesia tidak sepenuhnya kalah, karena setelah kejadian itu F-18 amerika langsung kembali ke Kapal Induk dan melapor kepada menara pengawas di Surabaya.


Dan salah satu tetangga kita di Utara juga seperti mengambil kesempatan ditengah keterpurukan militer Indonesia. Kita tahu, perselisihan Sipadan dan Ligitan juga berlangsung di tahun 2002 sewaktu embargo militer sedang dialami Indonesia. Karena kelemahan militer Indonesia ketika itu, Indonesia akhrinya kalah dari Malaysia dan harus merelakan Sipadan dan Ligitan menjadi milik Malaysia. Lemahnya militer Indonesia ketika itu mengurangi daya tawar Indonesia dan itu benar-benar di manfaatkan oleh Malaysia.


Pelajaran dari Embargo Masa Lalu


Mengenang kejadian menyakitkan di masa lalu bukan di maksudkan untuk membangkitkan kebencian terhadap Negara-negara yang telah melakukan embargo maupun Negara yang memanfaatkan kesempatan itu untuk kepentingan nasionalnya. Tetapi mengenang itu adalah untuk mengingatkan kita agar tidak terjatuh kedalam lubang yang sama berkali-kali.

Pemerintah dan TNI saat ini sudah sedemikian bijak untuk merancang strategi dalam pembelian Alutsista untuk menghindari terjadinya Embargo lagi atau minimal mengurangi peluang terjadinya embargo lagi. Hal ini sudah disyaratkan pemerintah untuk membeli peralatan militer dari Negara yang member jaminan tidak akan melakukan embargo ke Indonesia.


Kata Kunci : Embargo| embargo militer| militer Indonesia

Sumber : http://analisismiliter.com


Artikel ini menarik bagi Anda? Mari kita berdiskusi dan berbagi informasi terkait artikel ini dengan memberikan komentar di bawah ini. Mungkin saja tulisan yang saya sampaikan masih kurang tepat, sehingga komentar dan perbaikan dari anda dapat memberikan masukan baru sehingga kita semua mendapatkan informasi yang benar-benar akurat. Silahkan komentari artikel ini menggunakan Account Sosial Media anda, namun hindari memberikan komentar yang menghina atau merendahkan pihak manapun.